Nama :
Ahmad Ghiffari Rizqul Haqq
NIM :
205010101111023
Cluster :
21
Kenapa
Milenial Sangat Mudah Mengalami Depresi?
Kesehatan
seringkali hanya dilihat dari fisik saja. Padahal kesehatan semestinya
memandang dua komponen penting dalam diri manusia, yaitu jiwa dan raga. Akan tetapi kesehatan
jiwa masih dipandang sebelah mata. Generasi milenial masih saja memandang
kesehatan secara fisik sebagai komponen kesehatan yang utama padahal pada
setiap aktivitas yang dijalani, kesehatan mental sangat menentukan baik
buruknya hasil dari kegiatan yang dilakukan. Dari semua lapisan umur, anak muda
lah yang sangat rentan akan depresi.
Kenapa
anak muda lebih mudah mengalami depresi? Menurut WHO anak muda rentan mengalami
depresi hal tersebut bisa saja dikarenakan pada masa remaja terjadi perubahan
dan penyesuaian yang menuntut anak muda untuk bergerak cepat dalam menentukan
jalannya. Sebut saja perkuliahan,pekerjaan dan mulai membeli rumah untuk
kehidupan di masa yang akan datang. Peristiwa-peristiwa tersebut terjadi pada
masa remaja dan terkadang,ketidak siapan remaja dalam menghadapinya dapat
memicu depresi.
Penelitian
dari WHO menunjukkan bahwa sebanyak 10-20% anak diseluruh dunia mengalami
gangguan psikis dan 5-15% remaja berusia 12-18 tahun memiliki kecenderungan
untuk melakukan bunuh diri, hal inilah yang kurang disadari oleh masyarakat
khusunya di Indonesia. Kebanyakan dari kita masih menganggap remeh penyakit
mental ini dengan beranggapan bahwa penyakit tersebut dapat sembuh dengan kita
berpikiran positif saja. Pola pikir yang
berkembang di masyarakat seperti itu muncul karena selama ini kita hanya
menganggap orang yang mengalami masalah kejiwaan adalah mereka yang berteriak
tidak beraturan atau orang gangguan jiwa yang terlantar di jalan saja, padahal
bentuk gangguan jiwa tidak selalu dengan hal yang tampak saja, sebut saja edukasi
mengenai penyakit depresi yang masih sangat jarang digaungkan.
Edukasi
mengenai penyakit mental memang sangatlah rendah, hal ini dibuktikan dengan
penelitian dari WHO yang menunjukkan bahwa ada 800.000 orang meninggal akibat
bunuh diri dikarenakan depresi. Mirisnya kebanyakan dari mereka bahkan tidak
mendapatkan afeksi yang mereka butuhkan, kebanyakan korban depresi lebih
memilih berdiam sendiri di dalam ruangannya sambil melukai diri sendiri atau
bersedih akan keadaannya. kondisi seperti itulah yang menjadikan kita harus
lebih aware terhadap kesehatan mental kita dan orang-orang disekitar kita.
Kita
sudah mengetahui betapa mengerikannya dampak depresi bagi manusia. Angka yang
telah dipaparkan menunjukkan bahwa pada situasi normal saja, angka depresi
telah mencapai tahap yang fantastis. Lalu bagaimana di era pandemi ini?
Terlebih segala hal sekarang menjadi lebih susah : pekerjaan jadi semakin
terganggu,sosialisasi dibatasi dan tempat-tempat hiburan pun ditutup. Solusi
yang bisa kita gunakan saat ini adalah sering-sering berfikir positif dan melakukan
kegiatan yang disenangi, sebut saja beberapa hobi yang biasa kita lakukan di
luar ruangan bisa kita adopsi untuk menghadapi kondisi serba terbatas ini,
seperti olahraga sederhana atau bisa juga kita mengisi hari dengan mencoba
berbagai menu kreatif yang bahannya mudah kita temukan sehari-hari. Kegiatan
semacam itu sangat penting untuk menjaga kesehatan mental di era pandemi ini.
Kita
tahu bahwasanya manusia merupakan makhluk sosial yang saling membutuhkan oleh
karena itu hendaknya kita saling menjaga satu sama lain agar tidak terjerumus
kedalam penyakit mental seperti depresi yang pastinya akan sangat merugikan
korban dan orang sekitarnya. Saling menjaga adalah hal terbaik yang dapat
dilakukan, terlebih situasi kritis saat ini tentunya akan membutuhkan tenaga
dan usaha yang ekstra agar tetap sehat dan mampu meneruskan hidup.
Comments
Post a Comment